Jejak pariwisata & pertanian Kota Batu
![]() |
| 1.2015 |
Salah satu alasan mengapa penulis memilih judul Jejak Pariwisata & Pertanian Kota Batu adalah karena pertanian di daerah ini mempunyai segudang kisah. Karena pertanian, daerah ini menjadi daerah migran semenjak Masa Bercocok tanam. Kemudian di era Hindu Buddha, beberapa desa di daerah ini menyandang status daerah perdikan, itu dikarenakan pertanian. Karena pertanian (perkebunan) pulalah di era kolonial bangsa penjajah mampu mengisi pundi-pundinya dengan gulden. Pasca kemerdekaan hingga sekarang, pertanian mempunyai andil ikhwal status daerah ini dimulai dengan status kecamatn meningkat menjadi kota administrasi kemudian menjadi daerah otonom dengan status kota.
Pertanian, sungguh menjadi satu nafas dengan perikehidupan dan penghidupan masyarakat. Menjadi salah satu unsur kebudayaan universal. Lalu, pariwisata?
Kisah pariwisata tak setua pertanian dan mengalami pergeseran dari jaman ke jaman. Era Hindu Buddha, pariwisata lebih mengarah pada wisata religi. Kemudian era kolnial, pariwisata cenderung mengarah ke wisata rekreasi dan hiburan. Dan puncaknya setelah batu menjadi daerah otonom. Terutama semenjak dipimpin oleh walikota eddy Rumpoko. Sektor ini mampu menjadi magnet. Menyedot jutaan wisatawan setiap tahunnya, sehingga menciptakan lapangan usaha dan berusaha. Daripadanya mampu menumbuhkan self pride. Masyarakat percaya diri dan bangga sebagai warga Kota Batu.
Judul : Jejak pariwisata & pertanian Kota Batu
Penulis : Sukrisman, dkk
Penerbit : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu
Cetakan kedua, 2015
ISBN : 978-602-72133-0-2



Komentar
Posting Komentar