Babat ISLAM Tanah Batu


Agama Islam semakin mewarnai kehidupan masyarakat Batu ketika Batu. Pangeran Rojoyo beserta kerabat dan santrinya membuka hutan Wonoaji menjadi pemukiman dan membuka pesantren di tempat tersebut. Selain itu wilayah Wonoaji yang semula merupakan sepi, berubah menjadi pemukiman yang ramai setelah Pangeran Rojoyo dan para santrinya mengubah tanah Wonoaji yang berupa hutan lebat menjadi pemukiman dan mulai menyiarkan agama Islam, dengan Pesantren Kabeneran Wonoaji sebagai basisnya. 

Selanjutnya kedatangan para santri Pangeran Rojoyo yang berasal dari Cirebon, Kadilangu Demak, Tuban, Mojokerto, dan dari beberapa tempat yang lain di sekitar Batu juga turut meramaikan Kabeneran Wonoaji dan Batu Pada umumnya. Apalagi setelah para santri tersebut disebar untuk mengajarkan agama Islam di daerah Batu sendiri maupun di daerah lain di luar Batu. 

Para santri yang masing-masing kemudian membuka pesantren di tempat andil dalam mengembangkan ajaran agama Islam di Batu maupun beristiqomah, turut mengembangkan wilayah Batu sebagai sebuah pemukiman. Sebab santri yang menuntut ilmu di masing-masing pesantren, biasanya bermukim di pesantren. 

Daerah Batu memang sejak zaman Mpu Sindok, dan mungkin sebelumnya telah dihuni manusia. Bahkan mereka telah membentuk pemukiman. Namun kehadiran Pangeran Rojoyo dan para  pengikutnya dalam perjuangannya Islam di Batu dan sekitarnya, turut pula mewarnai kehidupan di daerah Batu. Selain itu kehadiran Pangeran Rojoyo dan pengikutnya dalam menyiarkan agama Isam di daerah Batu seperti telah memancangkan tonggak dimulainya penyebaran agama Islam di Daerah Batu.

Oleh sebab itu tiak berlebihan, apabila yang ilakukan Pangeran Rojoyo dan pengikutnya sebagai usaha dalam Babat Islam Tanah Batu.

Komentar